Pemantauan Rutin Bengawan Solo di Lamongan: Ketinggian Air Normal 2.70 Meter, Kondisi Keruh Picu Kewaspadaan

Lamongan, AnalisaJatim.id,- Pada hari Minggu, 28 Desember 2025, tim pemantauan dari kepolisian melakukan pengawasan intensif terhadap ketinggian air Sungai Bengawan Solo di wilayah Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana alam di musim hujan yang sedang berlangsung.

Menurut catatan lapangan, ketinggian air Bengawan Solo saat ini mencapai 2.70 meter, yang masih berada dalam batas normal. Namun, kondisi air yang keruh menjadi perhatian khusus, karena dapat menandakan adanya sedimentasi atau aliran hulu yang terganggu akibat curah hujan tinggi di wilayah atas sungai. Pemantauan ini dilakukan secara koordinatif dengan Balai Pengamatan Bengawan Solo (BPBS), lembaga di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang bertanggung jawab atas pengelolaan wilayah sungai Bengawan Solo.

Petugas yang terlibat dalam operasi ini adalah Aipda Sugeng P dan Aipda Nur Said dari Polsek Karanggeneng Polres Lamongan. Mereka bertugas memantau langsung di tepi sungai, mencatat data real-time, dan melaporkan ke BPBS untuk analisis lebih lanjut. “Kami terus berkoordinasi dengan BPBS untuk memastikan data akurat dan respons cepat jika ada peningkatan level air,” ujar salah satu petugas di lokasi.

Pentingnya Pemantauan Bengawan Solo di Tengah Ancaman Banjir
Sungai Bengawan Solo, yang membentang sepanjang sekitar 600 kilometer melintasi Jawa Tengah dan Jawa Timur, merupakan arteri vital bagi masyarakat di sekitarnya. Di Kabupaten Lamongan, sungai ini sering menjadi sumber kehidupan untuk irigasi pertanian dan perikanan, namun juga rawan banjir saat musim hujan. Berdasarkan data historis dari BPBS, level normal Bengawan Solo di wilayah hilir seperti Lamongan berkisar antara 2-3 meter. Namun, jika melebihi 4 meter, status siaga banjir akan diberlakukan, yang bisa mengakibatkan luapan air ke pemukiman dan lahan pertanian.

Kondisi air keruh seperti saat ini sering dikaitkan dengan erosi tanah di hulu sungai, terutama di daerah Solo dan sekitarnya, yang diperburuk oleh deforestasi dan aktivitas manusia. Analisis dari pakar hidrologi menunjukkan bahwa keruhan air bisa menjadi indikator awal peningkatan debit, terutama jika curah hujan di pegunungan terus meningkat. Di Lamongan, Desa Mertani di Kecamatan Karanggeneng termasuk zona rawan, karena letaknya tepat di tepi sungai dengan topografi datar yang memudahkan banjir bandang.

Pemantauan rutin seperti ini bukan hanya prosedur standar, melainkan strategi preventif yang krusial. Pada tahun-tahun sebelumnya, seperti banjir besar 2021 dan 2023, Lamongan mengalami kerugian ekonomi hingga miliaran rupiah akibat luapan Bengawan Solo. Koordinasi dengan BPBS memungkinkan penggunaan teknologi seperti sensor otomatis dan prediksi cuaca berbasis AI untuk memitigasi risiko. “Dengan level 2.70 meter yang normal, kita masih aman, tapi keruhan air mengharuskan kita tetap waspada,” kata seorang ahli lingkungan dari Universitas Airlangga, yang menekankan perlunya restorasi ekosistem sungai untuk mengurangi sedimentasi jangka panjang.

Pemerintah daerah Lamongan telah mengalokasikan anggaran untuk penguatan tanggul dan sistem peringatan dini, yang terintegrasi dengan BPBS. Kegiatan hari ini menunjukkan komitmen aparat dalam menjaga keselamatan warga, terutama menjelang akhir tahun yang sering disertai hujan ekstrem akibat fenomena La NiƱa.

Masyarakat diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai dan melaporkan jika melihat perubahan signifikan pada level air. BPBS menyediakan hotline 24 jam untuk informasi terkini.

Reporter: Analisa | Editor: Nur

Tinggalkan Balasan