Anak Desa Bikin Dunia Terdiam! Siswa SMAIT Misykat Al-Anwar Hantam Bangkok, Raih Emas STEM Internasional

LAMONGAN, Analisajatim.id – Bangkok bergetar. Bukan oleh hiruk-pikuk wisata, melainkan oleh ledakan prestasi anak Desa Kawistolegi Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan. Nama itu kini menggema di panggung dunia: Ziven Quflun Prana Prasetya, Putra Dari Prasetyo Pranoto,S.H.,Dan Ibu Rina Ulfa, siswa SMA Islam Terpadu (SMAIT) Misykat Al-Anwar Lamongan, yang sukses mengguncang ajang World Youth STEM Invention Innovation (WYSII) 2026 di Thailand.
https://youtu.be/zsFjw7zu7_g?si=Z6a7tUJ59_dq0gU0
Di tengah ratusan peneliti muda dari berbagai negara, Ziven tak sekadar tampil—ia menyabet podium kehormatan. Ajang bergengsi yang digelar Malaysia Young Scientists Organisation (MYSO) pada 29 Januari–2 Februari 2026 itu menjadi saksi: anak Lamongan berdiri sejajar, bahkan melampaui standar global.
Ziven datang ke Bangkok bukan membawa janji, melainkan bukti ilmiah. Lewat riset berjudul:
“Sinergisitas Ekstrak Phyllanthus Urinaria (Meniran) dan Aloe Vera terhadap Sirosis Hati pada Mencit Balb/C Induksi CCL4: Analisis Fitokimia dan Morfologi”
ia berhasil mengawinkan kearifan herbal Nusantara dengan metodologi sains modern. Meniran dan lidah buaya—tanaman yang kerap dipandang sebelah mata—di tangan Ziven berubah menjadi senjata ilmiah melawan sirosis hati.
Hasilnya? Para juri internasional terdiam, lalu berdecak kagum. Riset ini dinilai bukan hanya inovatif, tetapi memiliki potensi besar untuk pengembangan riset kesehatan berkelanjutan.
Borong Dua Penghargaan, Sekali Hantam
Prestasi Ziven tak setengah-setengah. Dalam satu kompetisi, ia menggenggam dua trofi prestisius sekaligus:
1. Gold Medal (Medali Emas) – Pengakuan tertinggi atas kualitas dan orisinalitas riset.
2. Juara 2 Poster Riset Terbaik – Bukti kecakapan menyajikan data ilmiah secara tajam, komunikatif, dan visual.
Lamongan Bicara di Forum Dunia
Keberhasilan ini menjadi tamparan manis bagi stigma lama. Bahwa sekolah berbasis Islam terpadu hanya unggul moral—hari ini dibantah mentah-mentah oleh prestasi ilmiah kelas dunia.
“Ini bukan sekadar medali. Ini pesan keras bahwa anak muda Lamongan punya daya pikir yang diakui dunia internasional,” ujar salah satu akademisi yang mengikuti perkembangan lomba tersebut.


Lamongan tak lagi sekadar dikenal sebagai Kota Soto. Kini, ia menjelma lumbung intelektual muda yang siap berbicara di forum global.
Selamat, Ziven Quflun Prana Prasetya.
Teruslah meneliti, teruslah melawan batas. Dunia baru saja mengenal namamu—dan tampaknya, ini baru permulaan.
Reporter: Analisa
Editor: Nur
Sumber: Analisajatim.id