Banjir Rendam Ratusan Hektare Sawah, Petani Kalitengah di Ambang Gagal Panen

LAMONGAN, Analisajatim.id – Banjir kembali menghantam wilayah Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan. Hujan lebat yang mengguyur sejak akhir pekan membuat air meluap dan merendam delapan desa, dengan ketinggian air bervariasi antara 5 hingga 40 sentimeter, Minggu (8/2/2026).

Genangan mulai terpantau sejak pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB, berdampak langsung pada permukiman warga, akses jalan, fasilitas umum, hingga lahan pertanian. Sejumlah desa bahkan mulai merasakan kenaikan debit air sekitar 5 sentimeter, memicu kekhawatiran warga akan potensi banjir susulan.

Desa Bojoasri tercatat sebagai wilayah terdampak terberat. Sebanyak 140 rumah warga terendam dengan ketinggian air rata-rata 30–40 sentimeter. Tak hanya permukiman, banjir juga menutup 1.000 meter jalan poros dan 700 meter jalan lingkungan, menghambat aktivitas warga.

Genangan air turut merendam fasilitas pendidikan, terdiri dari 5 TK/PAUD, 2 SD/MI, 1 SMP/MTs, dan 1 SMA/SMK/MA, serta 2 mushola dan 1 kantor pemerintahan. Sektor pertanian terpukul keras dengan 285 hektare sawah dan tambak terendam air.

Di Desa Blajo, banjir setinggi 10–30 sentimeter merendam 38 rumah, 80 meter jalan poros, 200 meter jalan lingkungan, satu SD/MI, dua mushola, serta 72 hektare sawah dan tambak.

Sementara itu, Desa Pucangtelu mengalami genangan 5–20 sentimeter, berdampak pada 62 rumah, akses jalan poros dan lingkungan, dua lembaga pendidikan, serta 142 hektare lahan pertanian.

Genangan juga meluas ke Desa Pucangro, dengan ketinggian air 20–30 sentimeter yang merendam 3 rumah, jalan lingkungan, satu mushola, satu puskesmas pembantu, dan 187 hektare sawah/tambak.

Di Desa Gambuhan, banjir setinggi 10–20 sentimeter menggenangi 40 rumah, jalan poros dan lingkungan, satu SD/MI, serta 63 hektare sawah dan tambak.

Desa Tiwet terdampak genangan 5–15 sentimeter, merendam 37 rumah, dua lembaga pendidikan, satu puskesmas pembantu, serta 49 hektare lahan pertanian.

Sementara itu, Desa Somosari mencatat 168 rumah terendam, dengan genangan 5–15 sentimeter, berdampak pada jalan, fasilitas pendidikan, mushola, puskesmas pembantu, kantor pemerintahan, serta 250 hektare sawah dan tambak.

Adapun Desa Jelakcatur turut terdampak cukup signifikan. Sebanyak 172 rumah tergenang air setinggi 10–40 sentimeter, merendam jalan poros, jalan lingkungan, lembaga pendidikan, masjid, puskesmas pembantu, kantor pemerintahan, dan 160 hektare lahan pertanian.

Petugas mencatat debit air masih menunjukkan tren kenaikan sekitar 5 sentimeter, dipicu hujan lebat yang terus mengguyur wilayah hulu. Meski sebagian besar ruas jalan masih dapat dilalui, kondisinya licin dan berlumut, meningkatkan risiko kecelakaan.

Untuk mengendalikan genangan, dua unit mesin pompa pembuangan air ke aliran Bengawan Solo di Dusun Melik masih berfungsi normal dan terus dioperasikan.

Hingga Minggu sore, situasi wilayah Kecamatan Kalitengah dilaporkan masih kondusif. Namun warga di daerah terdampak diminta tetap waspada mengingat potensi hujan susulan dan kenaikan debit air yang masih mengancam permukiman serta lahan pertanian.

Reporter: Analisa
Editor: Nur

Tinggalkan Balasan