Dari Pekarangan Agung, Negara Bertumpu: Polisi Turun Tangan Jaga Nafas Ketahanan Pangan

Analisajatim.id | Lamongan,- Ketahanan pangan tak selalu lahir dari lahan luas dan proyek besar. Di Desa Jagran, Kecamatan Karanggeneng, ia tumbuh dari pekarangan sederhana—dan dari tangan-tangan yang tak mau menyerah pada ketergantungan.

Sabtu (4/4/2026) pukul 11.50 WIB, dua personel Polsek Karanggeneng turun langsung ke lapangan. Aipda Ach. Zainuri.A bersama Briptu Dedy Setiawan, S.H menyambangi pekarangan milik Bapak Agung. Bukan sekadar kunjungan, tapi bagian dari denyut Program Pangan Bergizi (P2B) yang terus dijaga agar tak sekadar jadi slogan.

Di atas tanah yang tak luas itu, cabai tumbuh—kecil, tapi bernilai besar. Karena di situlah ketahanan pangan dimulai: dari keberanian menanam, merawat, dan tidak bergantung sepenuhnya pada pasar.

Petugas hadir sebagai “polisi penggerak desa”, memastikan program pemerintah benar-benar hidup di tengah masyarakat. Mereka tak hanya memantau, tapi juga memotivasi—mengajak pemilik lahan untuk terus merawat tanaman agar tetap subur, berbuah, dan memberi manfaat ekonomi.

Pesannya jelas dan menggigit: krisis pangan tak bisa dilawan dengan wacana kosong. Ia harus dijawab dengan tindakan nyata—dari pekarangan, dari tangan sendiri.

Apa yang dilakukan di Jagran adalah potret kecil dari perlawanan besar. Ketika harga bahan pokok bisa melonjak sewaktu-waktu, ketika rantai distribusi bisa terganggu, warga yang menanam sendiri punya daya tahan lebih.

Monitoring berjalan lancar. Tanaman terpantau tumbuh, semangat warga tetap menyala.

Dan dari sana, satu kesimpulan menguat: ketahanan pangan bukan hanya program pemerintah—ia adalah gerakan bersama. Dimulai dari tanah sederhana, tapi berdampak luar biasa.

Reporter: Analisa
Editor: Nur

Tinggalkan Balasan