Sabuk Kamtibmas Ditegakkan: Polisi, TNI, dan Ormas Duduk Satu Meja, Turi Perkuat Barisan Jaga Kondusivitas

Analisajatim.id | Lamongan — Malam di Mapolsek Turi tak sekadar sunyi. Sabtu (25/4/2026), ruang itu berubah menjadi forum strategis: aparat, pemerintah, pemuda, hingga organisasi keagamaan duduk satu meja. Agenda tunggalnya tegas—mengunci stabilitas keamanan sebelum celah konflik terbuka.

Kegiatan Silaturahmi Sabuk Kamtibmas yang digelar pukul 19.30 hingga 21.30 WIB ini bukan seremoni basa-basi. Ini adalah konsolidasi kekuatan sipil dan aparat. Kapolsek Turi, AKP Aris Sugianto, secara lugas menegaskan arah kebijakan: keamanan bukan milik polisi semata, tapi tanggung jawab kolektif.

“Sabuk Kamtibmas adalah ikatan sosial. Warga harus saling menjaga, menasihati, dan melindungi. Tidak ada ruang bagi pembiaran,” tegasnya di hadapan peserta.

Hadir dalam forum itu Camat Turi Rakhmad Hidayat, Danramil 0812/03 Turi Kapten Inf Tri Prasetyo Hadi, kepala desa, tokoh pemuda, hingga perwakilan organisasi seperti Ansor, Banser, Pemuda Muhammadiyah, PSHT, dan elemen masyarakat lainnya. Komposisi ini mencerminkan satu hal: pendekatan keamanan kini berbasis kolaborasi lintas sektor.

Dalam perspektif hukum, langkah ini bukan tanpa dasar. Polri memiliki mandat dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, undang-undang itu juga membuka ruang kemitraan—dan Sabuk Kamtibmas adalah bentuk konkret implementasinya.

Camat Turi menegaskan, stabilitas wilayah tak bisa berdiri di atas satu kaki. “Kondusivitas lahir dari kebersamaan. Tanpa dukungan masyarakat, keamanan hanya slogan,” ujarnya.

Senada, Danramil Turi menekankan sinergi tiga pilar—TNI, Polri, dan pemerintah—harus bergerak serempak. Ia bahkan menginstruksikan peran aktif Babinsa sebagai “garda terdepan” deteksi dini potensi gangguan.

Sementara itu, Kepala Desa Bambang, Bakri, mengingatkan pentingnya menghidupkan fungsi tiga pilar di tingkat desa. Ia menegaskan, setiap persoalan harus diselesaikan secara cepat sebelum membesar menjadi konflik horizontal.

Dialog interaktif yang digelar dalam forum itu membuka ruang kritik sekaligus solusi. Warga diberi kesempatan menyampaikan persoalan riil di lapangan—mulai dari potensi gesekan antar kelompok hingga keresahan sosial. Ini menjadi indikator bahwa pendekatan keamanan tak lagi satu arah.

Catatan penting dari kegiatan ini jelas: Sabuk Kamtibmas bukan jargon. Ia adalah sistem sosial yang jika dijalankan serius, mampu menjadi benteng pertama pencegah konflik.

Hasilnya konkret—sinergitas terbangun, komunikasi terbuka, dan komitmen kolektif menguat. Di tengah potensi gangguan kamtibmas yang selalu mengintai, Turi memilih satu jalan: bersatu sebelum terpecah.

Dan pesan paling keras dari forum itu sederhana—keamanan bukan tugas segelintir orang. Ia adalah kewajiban semua pihak, tanpa pengecualian.

Reporter: Analisa
Editor: Nur

Tinggalkan Balasan