Kurangnya Ruang Literasi Anak Diaspora, UNESA Turun Tangan Bangun Klub Membaca di Malaysia

Analisajatim.id | Kuala Lumpur, Malaysia – Di balik gemerlap ibu kota Malaysia, masih tersimpan persoalan serius yang dialami anak-anak diaspora Indonesia. Banyak dari mereka merupakan anak pekerja migran Indonesia (PMI) yang lahir dari pernikahan tidak tercatat secara resmi, sehingga berstatus undocumented atau tidak memiliki dokumen kewarganegaraan yang sah.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada terbatasnya akses mereka terhadap pendidikan formal dan layanan kesehatan yang layak. Di tengah keterbatasan itu, Sanggar Bimbingan Belajar Muhammadiyah di Kampung Baru, Kuala Lumpur, menjadi benteng terakhir harapan bagi anak-anak diaspora untuk tetap memperoleh pendidikan dan pembinaan karakter.

Melihat realitas tersebut, Program Studi S1 Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional bertajuk “Pelatihan Internasional: Membangun Komunitas Pembaca Melalui Klub Membaca Bagi Guru-Guru di Malaysia.”

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 22 Juni 2025, itu dipimpin Ketua Tim PKM, Dr. Widyastuti, S.S., M.Pd, bersama tim yang terdiri dari Prof. Dra. Pratiwi Retnaningdyah, M.Hum, Dr. Ali Mustofa, S.S., M.Pd, Imam Hanafi, S.S., M.App.Ling, dan Prof. Dr. Andrzej Cirocki.

Program ini bukan sekadar pelatihan biasa. UNESA hadir membawa misi besar untuk membangun budaya literasi di kalangan anak-anak diaspora yang selama ini minim ruang membaca dan akses bahan bacaan berkualitas.

Dr. Widyastuti menjelaskan bahwa para guru dibekali kemampuan mengelola klub membaca serta memanfaatkan bahan bacaan berjenjang agar proses belajar menjadi lebih menarik, interaktif, dan berkelanjutan.

“Anak-anak tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan berbahasa, tetapi juga mengembangkan minat baca, kemampuan berpikir kritis, serta kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat melalui diskusi buku,” ujarnya.

Lebih jauh, klub membaca juga menjadi sarana penting untuk menjaga keterikatan anak-anak diaspora dengan bahasa dan budaya Indonesia, sekaligus membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan multikultural di negara tempat tinggal mereka.

Antusiasme peserta terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Salah satu siswa diaspora, Nizar Zulmi (11), mengaku sangat menyukai membaca komik digital dan merasa senang mengikuti aktivitas literasi yang dikemas secara menarik.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan sikap positif anak-anak terhadap pentingnya membaca. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan berpusat pada kebutuhan peserta didik, aktivitas membaca tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan menjadi kegiatan yang bermakna dan dinanti.

Sebagai bentuk dukungan nyata, tim PKM UNESA menyerahkan 25 buku bacaan kepada Sanggar Bimbingan Muhammadiyah. Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkaya koleksi bacaan sekaligus memperluas akses literasi bagi anak-anak diaspora Indonesia di Kuala Lumpur.

Program ini juga menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan global. Kegiatan tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan budaya literasi, SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dengan membuka akses pendidikan bagi kelompok rentan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas negara antara perguruan tinggi, guru, dan komunitas pendidikan.

Di tengah tantangan status hukum dan keterbatasan akses pendidikan yang masih membayangi sebagian anak diaspora Indonesia di Malaysia, langkah UNESA menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi jembatan penting menuju masa depan yang lebih baik. Sebab, ketika akses pendidikan formal terbatas, buku dan budaya membaca menjadi senjata paling ampuh untuk membuka jendela dunia.

Reporter : Analisa
Editor : Nur

Tinggalkan Balasan