Sesepuh SH Terate Bicara Tegas di Malam 1 Muharram: Stop Konvoi, Stop Bentrok, Kembali ke Jati Diri

Analisajatim.id | Lamongan — Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah dimanfaatkan sebagai ruang evaluasi, penguatan karakter, serta peneguhan nilai persaudaraan oleh keluarga besar SH Terate Ranting Karanggeneng. Dalam suasana malam 1 Muharram yang sarat makna spiritual, para sesepuh menegaskan bahwa organisasi yang telah berdiri lebih dari satu abad harus tetap menjaga arah, identitas, dan nilai-nilai pendidikan yang menjadi fondasinya.

Kegiatan refleksi malam 1 Muharram 1448 H / 2026 M tersebut dihadiri Wakil Ketua I SH Terate Cabang Lamongan Kang Mas Ud, unsur Forkopimcam Kecamatan Karanggeneng, Ketua Ranting SH Terate Karanggeneng Safuan, jajaran pengurus ranting, para sesepuh SH Terate Karanggeneng, serta calon warga baru SH Terate Ranting Karanggeneng.

Di hadapan warga dan generasi muda, Wakil Ketua I SH Terate Cabang Lamongan menegaskan bahwa tantangan organisasi saat ini tidak lagi sebatas pada jumlah anggota maupun pencapaian sumber daya manusia.

Menurutnya, SH Terate telah melahirkan banyak sarjana, tokoh masyarakat, hingga pejabat di berbagai bidang. Namun, tantangan yang kini perlu dijawab adalah bagaimana membangun mentalitas, karakter, dan kualitas persaudaraan seiring perkembangan organisasi yang semakin besar.

“Organisasi yang besar akan menghadapi gelombang yang besar, angin yang besar, dan persoalan yang besar pula,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam refleksi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa tradisi malam 1 Muharram bukan sekadar agenda rutin atau seremoni tahunan. Dalam filosofi SH Terate, momentum tersebut menjadi ruang muhasabah untuk meninjau kembali perjalanan organisasi sekaligus melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup setiap anggota.

Nilai tersebut, menurutnya, selaras dengan ajaran Islam mengenai Tahun Baru Hijriyah yang menekankan pentingnya introspeksi diri, peningkatan kesabaran, penguatan ketakwaan, serta pendekatan diri kepada Allah SWT melalui pengendalian diri dan penguatan spiritual.

Dalam forum tersebut juga disampaikan perhatian terhadap fenomena yang masih muncul pada momentum pengesahan warga baru, seperti konvoi berlebihan, gesekan antarkelompok, hingga perilaku yang dinilai tidak sejalan dengan tujuan organisasi.

Para sesepuh menekankan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dibangun melalui aturan dan sanksi semata, tetapi harus tumbuh dari kesadaran, keteladanan, dan komitmen bersama.

Tujuan utama organisasi kembali ditegaskan, yakni membentuk manusia yang memahami nilai benar dan salah, beriman, bertakwa, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Perhatian khusus juga diarahkan kepada generasi muda agar tidak berhenti pada simbol persaudaraan, tetapi benar-benar mengamalkan nilai seduluran sak lawase — ikatan batin yang dibangun atas dasar ketulusan, rasa hormat, dan tanggung jawab untuk saling menjaga.

Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, para senior dan sesepuh diharapkan tetap menjadi garda terdepan dalam pembinaan. Kehadiran mereka dinilai penting untuk memberikan teladan, meluruskan ketika terjadi penyimpangan, serta menjaga marwah organisasi agar tetap berada pada jalur persaudaraan dan pengabdian.

Menutup refleksi malam 1 Muharram, pesan yang kembali ditekankan sederhana namun bermakna: persaudaraan sejati tidak dibangun melalui seragam dan simbol, melainkan diwujudkan melalui sikap, perilaku, serta komitmen untuk saling menjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter: Analisa
Editor: Nur

Tinggalkan Balasan