HIJRAH BUKAN SEKADAR RITUAL! Pemkab Lamongan Tegaskan Spiritualitas sebagai Fondasi Pembangunan Megilan

Lamongan, Analisajatim.id – Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Lamongan bukan sekadar seremoni kalender. Di depan Pendopo Lokatantra, Senin (15/6), Pemerintah Kabupaten Lamongan menegaskan bahwa momentum hijrah harus diterjemahkan menjadi aksi nyata pembangunan daerah yang berlandaskan moral dan spiritualitas kuat.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi (Pak Yes) secara tegas menyatakan bahwa indikator kemajuan Lamongan tidak boleh hanya diukur dari fisik infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi semata. “Momentum 1 Muharram adalah titik evaluasi kritis. Kita butuh introspeksi diri dan penguatan keimanan sebagai fondasi untuk mewujudkan Lamongan yang megilan,” tegas Bupati di hadapan ribuan warga.

Pernyataan ini merupakan sinyal jelas arah kebijakan pemda: pembangunan fisik tanpa penguatan karakter masyarakat adalah bangunan semu. Capaian positif yang telah diraih harus dijaga melalui kolaborasi seluruh elemen, bukan hanya依靠 program pemerintah pusat atau daerah.
Rangkaian kegiatan doa bersama, lantunan gambus, tari sufi, hingga pawai ta’aruf lampion bukan sekadar hiburan religius. Lampion yang menyala di malam pergantian tahun adalah simbol konkret: cahaya petunjuk spiritual harus menerangi setiap langkah pembangunan. Ribuan warga yang hadir membuktikan bahwa masyarakat Lamongan siap mendukung visi pemimpinnya yang menyeimbangkan dunia dan akhirat.

Pemkab Lamongan optimistis, dengan menjaga semangat kebersamaan dan nilai-nilai keislaman, capaian positif dapat dipertahankan dan dipercepat. Namun, optimisme ini harus dibarengi dengan tindakan nyata dari setiap individu: peningkatan kualitas diri, kesalehan sosial, dan kontribusi aktif membangun daerah.

Hijrah di era modern bukan lari dari masalah, melainkan menghadapinya dengan integritas dan iman. Lamongan yang religius, berdaya saing, dan megilan hanya bisa terwujud jika spiritualitas menjadi napas utama dalam setiap kebijakan dan perilaku warganya. Jangan biarkan perayaan tahun baru Islam hanya berhenti pada euforia sesaat; jadikan ia bahan bakar untuk melompat lebih tinggi.
(Reporter: Analisa | Editor: Nur)