Desa Begal Bergerak Lawan Stunting, Program PMT Berbasis Pangan Lokal Jadi Ikhtiar Nyata Jaga Generasi

Analisajatim.id|NGAWI – Di tengah hamparan lahan pertanian dan kawasan hutan produktif di wilayah Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, terdapat satu desa yang tidak hanya dikenal sebagai sentra hasil bumi, tetapi juga mulai menegaskan komitmennya pada pembangunan kualitas manusia sejak usia dini.
Desa Begal, yang terdiri atas empat dusun yakni Begal, Kopenan, Bukak, dan Piji, selama ini dikenal sebagai wilayah agraris. Mayoritas penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian sawah dan budidaya tanaman polowijo di kawasan hutan Perhutani melalui wadah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Produksi singkong dan kentang hitam menjadi salah satu identitas ekonomi desa tersebut.
Namun pada Rabu (03/06/2026), perhatian masyarakat tidak tertuju pada hasil panen. Pendopo kantor desa yang luas dan representatif tampak dipenuhi ibu-ibu bersama balita. Suara celoteh anak-anak dan aktivitas petugas menjadi penanda berlangsungnya kegiatan rutin Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan berbahan pangan lokal bagi ibu hamil dan balita.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Yusuf Setyono beserta jajaran pemerintah desa, kader kesehatan, petugas puskesmas, serta para penerima manfaat.
Sekretaris Desa, Fitra Salma SB, yang mendampingi Kepala Desa, menjelaskan bahwa program tersebut dilaksanakan secara rutin sebagai bentuk intervensi dini terhadap persoalan gizi.
«“Pemberian makanan dilakukan dengan menu bergizi yang variatif. Dalam kegiatan ini juga dilakukan pengecekan kesehatan, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, serta pencatatan perkembangan peserta,” ujarnya.»

Ia menambahkan, program tersebut diarahkan untuk memastikan ibu hamil dan balita memperoleh asupan yang lebih baik demi menunjang pertumbuhan optimal serta menekan risiko stunting.
Tidak berhenti pada pola layanan rutin, Pemerintah Desa Begal juga menyiapkan penguatan program melalui pendekatan sosial.
«“Untuk memperluas cakupan pendampingan, kami memiliki tambahan program anak asuh, di mana setiap perangkat desa mendampingi satu anak,” tambahnya kepada awak media.»
Langkah tersebut menunjukkan pendekatan yang tidak berhenti pada distribusi bantuan, tetapi juga membangun tanggung jawab kolektif dalam menjaga kualitas tumbuh kembang anak.
Dari pantauan di lapangan, aktivitas pelayanan publik di Kantor Desa Begal berlangsung aktif hampir setiap hari. Bahkan pada waktu tertentu, aktivitas pemerintahan masih berjalan hingga malam hari.
Didukung kondisi lingkungan yang bersih, fasilitas yang memadai, dan budaya masyarakat yang dikenal kritis serta aktif menyampaikan aspirasi, pelayanan kepada warga menjadi salah satu wajah pemerintahan desa yang terus dijaga.
Program PMT yang dijalankan menjadi pengingat bahwa upaya menekan stunting tidak hanya bertumpu pada kebijakan di atas kertas, tetapi juga membutuhkan kehadiran nyata di tingkat desa—mulai dari pendampingan, pengawasan, hingga keberanian membangun budaya peduli terhadap generasi masa depan.
(Reporter: Budi | Editor: Nur)