Di Antara Riuh Takjil dan Lapar yang Ditahan, Polisi Menjaga Agar Senja Tetap Tenang

Analisajatim.id | Lamongan
Menjelang azan magrib, ketika aroma gorengan dan manisnya kolak mulai memenuhi udara, denyut kehidupan di Jalan Poros Kecamatan Kalitengah, tepatnya di Desa Tunjungmekar, terasa lebih padat dari biasanya. Jumat (20/3/2026) pukul 16.00 WIB, warga berbondong-bondong mencari takjil—mengisi jeda lapar dengan harapan sederhana: berbuka dalam kebersamaan.

Di tengah keramaian itu, tiga personel Polsek Kalitengah hadir, bukan untuk meredam suasana, tetapi menjaganya tetap aman. Aiptu Fathoni, Aipda Jamaludin, dan Bripka Ferry menyusuri titik-titik keramaian, mengatur arus lalu lintas yang mulai tersendat, sekaligus memberikan imbauan kamtibmas kepada para pedagang dan pembeli.

Sore hari di bulan Ramadan selalu punya dua sisi: hangatnya kebersamaan dan potensi kerawanan yang mengintai. Kepadatan kendaraan, parkir yang semrawut, hingga peluang tindak kriminal seperti pencurian dan perampasan bisa muncul di sela-sela keramaian. Belum lagi ancaman balap liar dan kecelakaan lalu lintas yang sering kali terjadi saat jalanan mulai sesak.

Namun sore itu, situasi tetap terkendali. Dengan pendekatan humanis, petugas tidak hanya berdiri sebagai pengawas, tetapi juga menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Mereka menyapa, mengingatkan, sekaligus memastikan bahwa setiap orang bisa pulang dengan selamat—membawa takjil, dan lebih penting lagi, rasa aman.

Tak ada sirene yang meraung, tak ada kejadian mencolok. Justru dalam ketenangan itulah makna kehadiran mereka terasa. Bahwa di balik hiruk pikuk ngabuburit, ada kerja-kerja sunyi yang memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Saat azan akhirnya berkumandang dan tangan-tangan mulai menengadah, mungkin tak banyak yang menyadari: di antara keramaian itu, ada mereka yang tetap berjaga—agar senja tetap menjadi milik ketenangan, bukan kekacauan.

Reporter : Analisa
Editor      : Nur

Tinggalkan Balasan