Dukungan MBG Menggema di Lamongan, Ketua DPRD: Program Daerah Harus Selaras Agenda Nasional

Analisajatim.id | Lamongan — Terik matahari siang tidak menyurutkan langkah sejumlah elemen masyarakat yang menggelar unjuk rasa damai di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Lamongan, Selasa (23/6/2026). Aksi tersebut membawa satu tuntutan utama: dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.
Di tengah penyampaian aspirasi, Ketua DPRD Kabupaten Lamongan, Mukhammad Freddy Wahyudi, S.E., menyampaikan pandangannya mengenai posisi pemerintah daerah dalam pelaksanaan kebijakan nasional.

Menurutnya, pelaksanaan program kerja di daerah merupakan bagian dari implementasi arah kebijakan nasional yang mengacu pada visi dan misi Presiden serta dijalankan sesuai kerangka regulasi dan sistem ketatanegaraan yang berlaku.
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem negara kesatuan, hubungan pemerintah pusat dan daerah berjalan melalui mekanisme kewenangan dan pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan secara konstitusional.
“Pemerintah daerah menjalankan fungsi pelaksanaan sesuai regulasi dan kewenangan yang telah ditentukan,” demikian substansi yang disampaikan dalam forum tersebut.

Di sisi lain, aspirasi masyarakat yang berkembang pada aksi tersebut menempatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai isu utama yang dinilai memiliki dampak strategis terhadap pembangunan sumber daya manusia.
Bagi kelompok pendukung, MBG dipandang lebih dari sekadar distribusi makanan kepada peserta didik. Program ini dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat kualitas generasi menuju target Indonesia Emas 2045.

Dalam penyampaian aspirasi, sejumlah peserta juga menyoroti tantangan nasional terkait persoalan gizi, stunting, dan kualitas tumbuh kembang anak yang dinilai memerlukan intervensi kebijakan secara berkelanjutan.
Program penyediaan makanan bergizi di lingkungan pendidikan disebut memiliki potensi mendukung kesiapan belajar, kesehatan anak, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Tidak berhenti pada sektor sosial, dukungan terhadap MBG juga dikaitkan dengan peluang penguatan ekonomi daerah.

Skema pelibatan petani, peternak, nelayan, hingga pelaku UMKM lokal dalam rantai pasok pangan dinilai berpotensi menciptakan efek ekonomi berlapis—mulai dari penyerapan hasil produksi hingga meningkatnya perputaran ekonomi di tingkat desa.
Selain aspek ekonomi dan kesehatan, sejumlah pihak menilai program tersebut juga membawa dimensi pembentukan karakter melalui pembiasaan disiplin, penghargaan terhadap makanan, dan penguatan budaya kebersamaan di lingkungan sekolah.

Meski mendapat dukungan, sejumlah kalangan turut menekankan pentingnya pengawasan pelaksanaan program agar tetap tepat sasaran. Pengendalian mutu makanan, transparansi anggaran, efektivitas distribusi, hingga akuntabilitas pelaksanaan disebut menjadi faktor penting agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.
Aspirasi yang menguat di Lamongan memperlihatkan bahwa pembahasan pembangunan nasional kini tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing menuju masa depan.
Reporter : Analisa
Editor : Nur