Jagung di Pekarangan, Harapan di Masa Depan: Ketahanan Pangan Tak Lagi Sekadar Wacana

Lamongan, Analisajatim.id — Ketahanan pangan tak selalu lahir dari sawah luas atau kebijakan megah. Kadang, ia tumbuh diam-diam di pekarangan rumah, dari tanah sempit yang digarap dengan kesadaran besar.
Jumat (3/4/2026) pukul 09.39 WIB, di Desa Kediren, Kecamatan Kalitengah, denyut itu terasa. Bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan langkah konkret memastikan bahwa pangan tak hanya tersedia—tapi juga bergizi dan berkelanjutan.

Aipda Wawan F.I, Bripka Tarilan, dan Bripda Fiqhi turun langsung. Mereka bukan datang membawa janji, tapi memastikan program berjalan: sosialisasi dan monitoring P2B (Pekarangan Pangan Bergizi) yang kini mulai mengakar di tengah masyarakat.
Fokusnya jelas—tanaman jagung. Sederhana, tapi strategis. Di tangan yang tepat, jagung bukan hanya komoditas, melainkan simbol kemandirian pangan. Dari pekarangan, masyarakat diajak untuk tidak bergantung sepenuhnya pada pasar. Mereka didorong untuk menanam, merawat, dan memanen sendiri sumber pangan bergizi.
Lebih dari sekadar tanaman, ini soal mentalitas. Bahwa ketahanan pangan dimulai dari rumah. Dari kesadaran kecil yang jika dikumpulkan, menjadi kekuatan besar.
Monitoring yang dilakukan menunjukkan hasil menggembirakan. Tanaman tumbuh, program berjalan, situasi aman dan terkendali. Tidak ada gangguan, tidak ada hambatan berarti. Tapi justru di situlah pesan pentingnya: keberhasilan seringkali lahir dari konsistensi, bukan sensasi.

Di tengah ancaman krisis pangan global yang kerap menghantui, langkah-langkah seperti ini menjadi jawaban paling nyata. Tidak bising, tapi berdampak. Tidak besar, tapi mengakar.
Karena pada akhirnya, ketahanan pangan bukan soal siapa yang paling kuat—tapi siapa yang paling siap.
Dan di Desa Kediren, kesiapan itu mulai tumbuh… dari jagung di pekarangan.
Reporter: Analisa
Editor: Nur