Lamongan|Analisajatim.id,- Mudik, sebuah perjalanan yang selalu menjadi etalase rindu, sebuah jendela yang menampilkan kerinduan yang mendalam terhadap kampung halaman. Di balik gemerlap rindu itu, tersimpan pula luka yang berusaha kusamarkan.
Kubawa rindu yang menggunung ini kembali ke tempat kelahiranku, setelah sebelumnya aku membawa luka dan kekecewaan ke tanah perantauan.
Perantauan, yang awalnya kujalani dengan penuh harapan, justru memberiku luka baru. Meskipun kota besar telah menambah goresan luka di hati, ia juga menjadi guru yang keras.
Ia mengajarkanku bagaimana menertawai diri sendiri di tengah kesulitan, bagaimana mengelola rasa resah dengan tabah, dan bagaimana caranya bangkit dari keterpurukan.
Kota mengajarkanku arti ketegaran dan kemandirian.
Perjalanan mudik kali ini terasa begitu panjang. Jalan yang kulalui terasa ngilu, tubuhku penat, namun semua itu tak sebanding dengan rindu yang membuncah di dada.

Rindu yang akhirnya tumpah ruah saat menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Rindu yang terpendam sekian lama akhirnya luluh lantak, berganti dengan rasa bahagia dan haru. Dan cerita-cerita pun mengalir deras, bagai air sungai yang tak terbendung.
Keluarga dan teman-teman masa kecilku menyambutku dengan hangat. Kampung halaman melihatku seolah-olah aku adalah etalase yang penuh cahaya, penuh kebahagiaan dan kesuksesan.
Mereka melihatku dengan penuh kebanggaan.
Padahal, di balik senyum dan tawa yang kutunjukkan, secara bersamaan aku sedang berusaha keras menyamarkan dan menggembirakan rasa luka yang masih menganga di hati. Aku berusaha tegar, berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Aku tidak ingin dicatat sebagai orang yang kalah, orang yang menyerah pada kerasnya kehidupan di perantauan. Aku ingin mereka melihatku sebagai pribadi yang kuat dan tegar.

Aku ingin menjadi inspirasi bagi mereka.
Rinduku akhirnya terobati, luka di hatiku sedikit terurai. Mudik kali ini menjadi momen yang sangat berharga.
Jiwa yang lelah terisi ulang dengan cinta dan doa-doa tulus dari orang tua, sanak saudara, dan teman-teman.
Doa-doa mereka menjadi kekuatan bagiku untuk kembali menjalani kehidupan di perantauan.
Kasih sayang dan dukungan mereka memberiku semangat baru.
Kini saatnya kembali ke kota, kembali ke medan perjuangan.
Aku kembali dengan hati yang lebih ringan, seraya memaafkan diri sendiri karena telah menipu air mata.
Aku telah berpura-pura bahagia di hadapan mereka, padahal jauh di lubuk hatiku masih tersimpan luka.
Namun, aku berjanji pada diri sendiri untuk terus berjuang, untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Aku akan kembali ke kota dengan tekad yang lebih kuat, dengan semangat yang membara, dan dengan harapan yang tak pernah padam.
Editor : Nur
Published : Red



