Tutup Diklat Humas Jatim, Ketua Umum SH Terate: Humas Jangan Jadi Penonton, Lawan Narasi Negatif!

Madiun|Analisajatim.id – Peran kehumasan kembali ditegaskan sebagai pilar sentral dalam menjaga marwah organisasi sekaligus membangun citra positif di tengah derasnya arus informasi, khususnya di era media sosial yang rawan distorsi, provokasi, dan penggiringan opini publik. Penegasan tersebut disampaikan pada penutupan DIKLAT HUMAS Level Intermediate Se-Jawa Timur, Minggu (11/01/2026).
Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, Drs. R. Murjoko, HW, dalam arahannya kepada jajaran humas menekankan bahwa humas bukan sekadar penyampai informasi kegiatan, melainkan penjaga keseimbangan narasi organisasi di ruang publik. Baik buruknya sebuah peristiwa, menurutnya, sangat ditentukan oleh cara humas mengelola, menyaring, dan menyampaikannya secara bertanggung jawab.

“Humas ini punya ikatan yang sangat penting. Di sinilah berita-berita baik harus dimunculkan. Kalau ada yang kurang baik, itu cukup menjadi konsumsi internal keluarga besar kita, bukan untuk digoreng di ruang publik,” tegasnya.
Ia menambahkan, humas dituntut tidak hanya mampu mengabaikan dan meredam berita negatif, tetapi juga aktif memproduksi konten positif yang mencerahkan, menyejukkan, serta memberi manfaat luas bagi masyarakat, khususnya warga Indonesia.
Memasuki awal tahun 2026, tantangan kehumasan disebut semakin kompleks. Produksi konten tidak lagi sebatas pelaporan kegiatan, namun juga mencakup edukasi publik, klarifikasi isu strategis, serta penguatan nilai-nilai luhur organisasi. Seluruh elemen humas diminta bergerak serempak, satu irama, dan satu komitmen.
Sorotan khusus juga diarahkan pada isu yang sempat ramai di media sosial terkait polemik kegiatan di luar negeri yang menyeret simbol keagamaan dan organisasi. Dalam konteks ini, Ketua Umum menegaskan bahwa humas bersama tokoh terkait memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pemahaman yang benar kepada warga, termasuk keluarga besar SH Terate, agar tidak terjadi salah tafsir dan kegaduhan berkepanjangan.

“Di sinilah humas diuji. Kita harus hadir memberi penjelasan yang benar, menenangkan suasana, dan meluruskan informasi yang simpang siur,” ujarnya.
Sejumlah program ke depan, mulai dari diklat pelatihan berkelanjutan, penguatan bahasa jurnalistik, hingga pengembangan konten kreatif, disebut sebagai tantangan bersama yang harus dihadapi dengan kepala dingin dan langkah pasti.
Ia menegaskan, apa pun dinamika internal maupun eksternal yang terjadi, roda organisasi harus tetap berjalan. Tidak boleh ada kemunduran hanya karena isu sesaat atau tekanan opini publik.

“Kepemulusan organisasi harus berjalan. Kita sudah sepakat, kita sudah berkomitmen,” katanya dengan nada mantap.
Menutup pernyataannya, ia kembali mengingatkan semboyan yang menjadi roh perjuangan organisasi:
“Selama matahari masih bersinar, selama bumi masih dihuni manusia, selama itu Persaudaraan Setia Hati Terate tetap jaya dan kekal abadi untuk seluruh masyarakat.”
Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada seluruh cabang SH Terate se-Jawa Timur serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga stabilitas, persatuan, dan citra positif organisasi.
Berita ini menegaskan bahwa humas bukan sekadar pelengkap, melainkan garda terdepan penjaga kehormatan, persatuan, dan kepercayaan publik terhadap organisasi.
Reporter: Analisa
Editor: Nur